![]() |
| Ramai curhatan supplier yang menolak menyuplai MBG karena permintaan SPPG menurunkan harga. (Threads/itsme_ndhenk - suburbdweller) |
SIBERSATU.CO – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan ini tengah menjadi sorotan tajam warganet. Bukan soal menu makanannya, melainkan banyaknya keluhan dari para supplier dan pelaku UMKM yang memilih mundur dan menolak menyuplai bahan pangan ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Melalui sebuah utas yang viral di platform Threads, terungkap sejumlah alasan mengejutkan di balik penolakan tersebut. Mulai dari penawaran harga yang dianggap tidak masuk akal hingga adanya praktik permintaan nota kosong yang memicu kecurigaan publik.
UMKM Menjerit: Harga Ditekan Terlalu Murah
Keluhan utama yang paling banyak disuarakan oleh para supplier adalah permintaan harga dari pihak SPPG yang dinilai sangat merugikan pedagang kecil.
Hal ini diungkapkan oleh akun Threads @itsme_ndhenk pada Minggu (14/6/2026), yang membagikan kompilasi curhatan para pelaku UMKM. Salah satunya datang dari produsen roti burger mini.
"Roti burger mini sudah harga seribuan masih dinego juga. Roti bungkus pabrik saja minimal Rp2.000, masa saya UMKM disuruh jualan di bawah Rp1.000?" keluh akun @__soffit.
Senada dengan hal tersebut, pedagang buah dan tempe di pasar pun mengeluhkan hal yang sama. Akun @niedasabila menceritakan pengalamannya saat berbelanja di pasar, di mana para pedagang enggan menyuplai dapur MBG.
"Alasannya, harga minta murah tapi spek minta grade A+++++. Misal biasa jual ecer Rp5.000, dia ngasih penawaran Rp4.000 karena partai besar. Tapi SPPG maunya harga Rp2.000. Jangankan untung, balik modal saja tidak. Itu bukan support UMKM lokal, itu namanya mencekik," ungkapnya.
Fakta Mengejutkan: Buah Sisa Sortiran untuk MBG
Selain masalah harga yang ditekan serendah mungkin, kualitas bahan makanan yang disasar oleh oknum dapur MBG juga menuai kritik keras. Asri Kasura, seorang pengusaha katering, membongkar temuan di lapangan bahwa ada pihak yang sengaja mencari buah sisa sortiran agar harganya murah.
"Karena saya pedagang katering yang sering belanja di Kramat Jati, mereka (oknum MBG) maunya sisa sortiran dalam jumlah banyak, yang penting murah. Soal rasa belakangan," tulis Asri pada Senin (15/6/2026).
Mirisnya, pedagang buah itu sendiri sampai merasa tidak tega. "Abangnya sampai nawarin saya makan salak yang biasa dibeli orang MBG sambil bilang, 'Coba dah itu salak MBG, dibagikan gratis saja saya nggak nafsu makannya, apalagi buat anak-anak ya,'" paparnya menirukan ucapan sang pedagang.
Dugaan Manipulasi Anggaran Lewat Permintaan Nota Kosong
Isu yang tak kalah panas dan memicu perdebatan adalah terungkapnya praktik permintaan nota kosong oleh pihak SPPG kepada supplier. Praktik ini membuat banyak supplier mundur karena curiga akan adanya dugaan mark-up atau manipulasi anggaran.
"Saya pribadi menolak orderan dari pemerintahan karena selalu minta nota dobel; satu nota harga asli dari saya dan satu nota kosong. Sudah ada gambaran itu bakal buat apa," bongkar akun @ulfa_eljheisya.
Pengakuan serupa juga disampaikan oleh akun @suburbdweller, yang didatangi oleh pihak purchasing MBG untuk membeli sabun cuci piring dan perlengkapan kebersihan.
"Keuntungannya yang saya dapat cuma Rp500 perak per item. Ya saya tolak, sudah begitu minta nota kosong pula," tegasnya.
Hingga isu ini viral dan ramai diperbincangkan, belum ada tanggapan atau klarifikasi resmi dari pihak terkait mengenai sederet keluhan yang dialami oleh para supplier dan UMKM lokal tersebut. Publik berharap ada transparansi dan pengawasan ketat agar program Makan Bergizi Gratis ini benar-benar tepat sasaran tanpa merugikan pedagang kecil. (*)



