Iklan

Iklan

Kurangi Ketergantungan Dolar AS, DPR Puji Langkah Baru Bank Indonesia Perkuat Rupiah

Redaksi
Minggu, 14 Juni 2026
Last Updated 2026-06-14T08:24:20Z

SIBERSATU.CO, JAKARTA – Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah strategis Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas dan memperkuat nilai tukar Rupiah. Apresiasi ini merespons langkah konkret BI dalam memperluas kerja sama keuangan internasional dengan Tiongkok dan Hong Kong.


Langkah penguatan tersebut diwujudkan melalui kesepakatan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dengan Gubernur People’s Bank of China (PBOC), Pan Gongsheng. Kesepakatan ini resmi ditandatangani pada 11 Juni 2026 di Shanghai, China.


Tinggalkan Dolar AS Lewat Transaksi Mata Uang Lokal (LCT)


Selain BCSA, Bank Indonesia juga memperluas Memorandum of Understanding (MoU) terkait Local Currency Transaction (LCT) hingga mencakup wilayah Hong Kong. Penandatanganan ini turut melibatkan Eddie Yue, selaku Chief Executive Hong Kong Monetary Authority (HKMA).


"Kesepakatan itu membuat transaksi antara Indonesia, China Daratan, dan Hong Kong bisa dilakukan dengan menggunakan Rupiah atau Renminbi tanpa harus menggantungkan pada Dolar Amerika Serikat," tegas Sufmi Dasco Ahmad dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (14/6/2026).


Integrasi QRIS Lintas Negara Indonesia-China


Tidak hanya di sektor makro, kesepakatan ini juga menyentuh sektor transaksi digital melalui implementasi QRIS lintas batas (Cross-border QRIS) antara Indonesia dan China. Kebijakan ini akan mempermudah transaksi pengusaha maupun masyarakat kedua negara.


Terkait kesiapan infrastruktur, Dasco menambahkan:


  • Terdapat 191 penyedia layanan keuangan di China yang telah terhubung.

  • Terdapat 24 penyedia layanan di Indonesia yang siap memfasilitasi transaksi ini.


"Sehingga, transaksi antara pengusaha China dan Indonesia kini bisa langsung menggunakan QRIS antarnegara, dan semuanya sudah saling terhubung," jelas Dasco.


Katalis Positif bagi Kinerja Ekspor-Impor


Lebih lanjut, Dasco mengungkapkan bahwa perjanjian moneter antara BI dan PBOC ini akan membawa dampak masif bagi efisiensi perdagangan internasional. Tercatat, nilai transaksi ekspor-impor antara Indonesia dan China pada tahun 2025 mencapai angka USD 154,5 miliar.


Dengan optimalisasi LCT, volume perdagangan sebesar itu kini dapat dieksekusi menggunakan mata uang lokal (Rupiah dan Renminbi), sehingga dapat memangkas biaya konversi mata uang dan menekan permintaan terhadap Dolar AS di dalam negeri.


"Ini adalah upaya yang sangat serius untuk mengurangi kebutuhan Dolar Amerika Serikat dalam transaksi dagang, termasuk digunakannya QRIS lintas negara antara Indonesia dan China. Hal ini dilakukan BI semata-mata untuk memperkuat Rupiah," tutupnya. (*)

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan

Iklan
BREAKING NEWS