Iklan

Iklan

Baburu Babi, Tradisi Piaman yang Merawat Adat, Silaturahmi dan Kebersamaan

Redaksi
Selasa, 08 September 2026
Last Updated 2026-09-08T06:03:01Z
SIBERSATU.CO, PADANG PARIAMAN — Tradisi baburu babi telah melekat dalam kehidupan masyarakat Piaman secara turun-temurun. Berawal dari upaya menjaga lahan pertanian dari gangguan babi hutan, kegiatan ini berkembang menjadi olahraga tradisional sekaligus ruang silaturahmi antarmasyarakat.

Di Pariaman dan Padang Pariaman, pelaksanaan baburu memiliki tata cara adat. Musyawarah, penghormatan kepada pemimpin masyarakat, serta tanggung jawab terhadap sesama menjadi bagian dari tradisi tersebut.

Ketua PORBI Padang Pariaman, AKBP (Purn.) Maymuspi, S.E., M.M., menilai pemahaman terhadap nilai-nilai itu perlu diwariskan kepada generasi muda agar keberlangsungan baburu tetap disertai pengetahuan tentang sejarah dan etikanya.

“Kita berharap generasi muda tidak hanya mengenal baburu sebagai olahraga, tetapi juga memahami sejarah, adat, etika, dan rasa persaudaraan yang hidup di dalam tradisi tersebut,” kata Maymuspi.

Menurutnya, persaudaraan, disiplin, penghormatan terhadap adat, dan kepedulian kepada masyarakat merupakan nilai positif yang perlu terus dijaga.

Dalam perkembangannya, arena baburu mempertemukan pemburu dari berbagai korong dan nagari. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, dan mempererat hubungan persaudaraan.

Organisasi pemburu pada masa sebelumnya dikenal dengan sebutan Persatuan Buru Babi (PBB). Seiring waktu, kegiatan tersebut kemudian lebih dikenal melalui wadah Persatuan Olahraga Buru Babi (PORBI).

Pelaksanaan baburu di Piaman tidak terlepas dari keterlibatan niniak mamak, penghulu, para muncak, urang tuo buru, palo mudo, serta unsur masyarakat lainnya.

Dalam struktur tradisionalnya dikenal Muncak Rajo, Muncak Nagari, Muncak Korong, dan Urang Tuo Buru. Mereka berperan menjaga keteraturan kegiatan sekaligus menjadi penghubung antara pemburu, unsur adat, dan masyarakat nagari.

Sebelum memasuki kawasan berburu, masyarakat dan peserta terlebih dahulu bermusyawarah di tempat yang telah ditentukan. Pertemuan ini melibatkan niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, para muncak, palo mudo, serta nan patuik jo mungkin.

Dalam musyawarah tersebut, Muncak Rajo atau Palo Mudo menyampaikan maksud dan rencana kegiatan kepada niniak mamak.

Prosesi adat juga ditandai dengan penempatan carano beserta kelengkapannya di hadapan niniak mamak. Tabir dan tirai dipasang sebagai bagian dari tata cara yang menyertai kegiatan tersebut.

Rangkaian itu menjadi bentuk penghormatan terhadap adat dan pemimpin masyarakat sebelum peserta memasuki rimbo atau kawasan hutan. Semangat penghormatan tersebut sejalan dengan falsafah Minangkabau, “Adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.”

Tradisi baburu juga memiliki istilah dan ungkapan yang diwariskan antargenerasi. Perlengkapan tradisional yang dikenal antara lain badia balansa atau senjata locok, tombak atau galah, serta pisau. Anjing pemburu turut menjadi bagian dari kegiatan yang berlangsung di rimbo.

Di kalangan pemburu hidup ungkapan, “Badia salareh, galah sabatang, anjiang saikua, rantai saghawan, rimbo satumpak, sorak sadirau. Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun.”

Ungkapan tersebut menggambarkan semangat persatuan. Meski memiliki peran dan perlengkapan berbeda, para peserta terikat oleh kebersamaan serta tanggung jawab ketika memasuki arena berburu.

Prinsip ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun juga mencerminkan nilai kehidupan masyarakat Minangkabau: menghadapi kesulitan bersama dan menjaga persaudaraan dalam berbagai keadaan.

Kepedulian terhadap sesama turut tercermin dalam cara masyarakat menyikapi musibah saat berburu. Prinsip tersebut dikenal melalui ungkapan, “Bangkak didamak, luko ditaweh, sakik diubek, mati dijanguak.”

Pesannya, peserta yang mengalami musibah tidak dibiarkan menghadapi kesulitan seorang diri. Mereka yang terluka dibantu, yang sakit diperhatikan, dan keluarga yang berduka mendapat perhatian serta penghormatan.

Nilai itu menempatkan kepedulian sebagai bagian penting dalam tradisi baburu, selain keberanian dan kemampuan menghadapi medan hutan.

Di tengah perubahan zaman, keberlangsungan baburu juga menghadapi tuntutan untuk tetap memperhatikan aturan, keselamatan, kelestarian lingkungan, serta kehidupan masyarakat.

Maymuspi berharap pemahaman terhadap sejarah, adat, dan etika membuat generasi muda mengenali baburu sebagai bagian dari identitas sosial dan budaya Piaman. Dengan pemahaman tersebut, nilai persaudaraan dan tanggung jawab yang menyertai tradisi ini dapat terus diwariskan.
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan

Iklan
BREAKING NEWS