Iklan

Iklan

Viral! Ketua BEM FH UBK Akui Terima Uang saat Aksi Mahasiswa di Jakarta, Begini Kronologinya

Redaksi
Selasa, 23 Juni 2026
Last Updated 2026-06-23T09:27:30Z
Menyoroti isu aksi berbayar yang diduga melibatkan massa mahasiswa FH UBK di Jakarta hingga mediasi tertutup dengan Wapres Gibran. (IG/@undercover.id)

SIBERSATU.CO, JAKARTA — Publik di media sosial tengah menyoroti beredarnya video pengakuan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (FH UBK), Muhammad Abdimaludin, yang mengaku menerima sejumlah uang saat aksi mahasiswa bertajuk Tata Ulang Indonesia di Jakarta.


Pengakuan tersebut disampaikan Abdi dalam sebuah forum klarifikasi di hadapan civitas akademika Universitas Bung Karno dan kemudian beredar luas di media sosial. Video itu juga diunggah oleh akun Instagram @undercover.id pada Selasa (23/6/2026).


Dalam keterangannya, Abdi mengakui menerima uang yang disebut berkaitan dengan upaya untuk menahan massa mahasiswa yang berada di bawah koordinasinya agar tidak melanjutkan aksi ke kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat.


“Terkait persoalan yang menjadi objek pembicaraan, terkait uang itu, saya memang menerima,” ujar Abdi dalam video yang beredar.


Pengakuan tersebut sontak menjadi perhatian publik dan memunculkan berbagai spekulasi terkait aksi mahasiswa yang berlangsung pada pertengahan Juni lalu.


Sebut Dana Didistribusikan ke Sejumlah Pihak


Berdasarkan penelusuran, pengakuan itu disampaikan dalam forum klarifikasi mahasiswa yang digelar pada Senin (22/6/2026) malam.


Dalam kesempatan tersebut, Abdi tidak mengungkapkan secara rinci total nominal uang yang dijanjikan. Namun, ia menyebut dana yang diterimanya hanya sekitar 20 persen dari jumlah yang sebelumnya dijanjikan.


Abdi juga mengungkapkan sebagian uang tersebut telah didistribusikan kepada sejumlah pihak.


“Rp2,5 juta ke dua alumni, Rp2 juta ke wakil saya, Rp2 juta ke Mubarak, dan Rp2 juta ke BEM FE UBK,” kata Abdi.


Menurut pengakuannya, sebagian dana tersebut digunakan untuk kebutuhan pribadi, sementara sisanya dibagikan kepada sejumlah pengurus BEM FH UBK dan BEM Fakultas Ekonomi UBK.


Sebut Ada Anggota Polisi yang Menghubungi


Dalam keterangannya, Abdi mengatakan uang tersebut diberikan melalui seorang anggota kepolisian yang dikenalnya melalui seorang alumni Universitas Bung Karno.


“Sebelumnya ada pihak kepolisian agar kami tidak turun aksi, tapi kita tetap turun,” ungkapnya.


Abdi juga menyebut nama seseorang yang disebutnya berperan dalam proses tersebut.


“(Uang) itu sebagai bentuk penyuapan, ada namanya Bang Aan,” sambungnya.


Menurut pengakuan Abdi, tujuan pemberian uang tersebut adalah agar massa mahasiswa tidak bergerak menuju kawasan Patung Kuda. Selain itu, mahasiswa juga diminta bersedia mengikuti mediasi tertutup dengan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka.


Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak kepolisian terkait pernyataan yang disampaikan Abdi. Karena itu, informasi tersebut masih berupa pengakuan sepihak dan belum dapat diverifikasi secara independen.


Kronologi Aksi Mahasiswa UBK dan Pertemuan dengan Wapres Gibran


Sebelumnya, mahasiswa Universitas Bung Karno menggelar aksi bertajuk Tata Ulang Indonesia pada Senin (15/6/2026). Massa bergerak dari kampus UBK di kawasan Cikini menuju Patung Kuda, Jakarta Pusat.


Dalam perjalanan aksi, massa mahasiswa sempat terlibat aksi dorong dengan aparat kepolisian di kawasan Tugu Tani.


Setelah itu, sejumlah pimpinan aksi diminta melakukan pertemuan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.


Sebanyak 15 perwakilan mahasiswa kemudian mendatangi kantor Wakil Presiden dan melakukan dialog tertutup selama sekitar 60 menit. Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa menyampaikan berbagai tuntutan, termasuk terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.


“Pak Wapres mencatat poin-poin tuntutan kami, di antaranya evaluasi dan perbaikan segala bentuk yang janggal di negara hari ini seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih,” kata Abdi usai pertemuan.


Saat itu, pihak mahasiswa juga menegaskan akan kembali turun ke jalan apabila tuntutan yang mereka sampaikan tidak mendapatkan tindak lanjut dari pemerintah.


“Kalau tuntutan kami sampai 5x24 jam setelah pertemuan tidak dipenuhi, kami akan turun ke jalan dengan jumlah yang lebih besar lagi,” tegasnya.


Video pengakuan tersebut kini terus menjadi perbincangan di media sosial. Publik pun menantikan klarifikasi dari pihak-pihak terkait guna menjelaskan secara utuh duduk perkara yang sebenarnya di balik polemik tersebut.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan

Iklan
BREAKING NEWS