Iklan

Iklan

Latsar Calon Manajer Kopdes Jadi Sorotan, Kemhan Pastikan Pelatihan SPPI Berbeda dengan Pendidikan Militer untuk Prajurit

Redaksi
Sabtu, 27 Juni 2026
Last Updated 2026-06-27T11:32:07Z
Latsar militer SPPI untuk program KDKMP-KNMP. (IG/kolatkoarmada1)

SIBERSATU.CO – Program pelatihan bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) kembali menjadi perhatian publik setelah muncul sorotan terkait metode pelatihannya yang dinilai menyerupai latihan militer.


Para peserta yang berasal dari program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) diketahui menjalani rangkaian pelatihan yang mencakup kedisiplinan dan pembentukan mental, sehingga memicu perdebatan mengenai batas antara pelatihan sipil dan militer.


Kemhan Tegaskan Bukan Pendidikan Militer


Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), Mayjen TNI Ketut Gede Wetan, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan bertujuan membentuk peserta menjadi prajurit.


Dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kementerian Pertahanan Republik Indonesia) pada Jumat (27 Juni 2026), ia menekankan bahwa peserta tetap berstatus sipil.


“Perlu kami tegaskan bahwa kegiatan ini bukan bertujuan membentuk peserta menjadi prajurit atau anggota militer,” ujar Ketut. Ia menambahkan bahwa peserta tetap menjalankan peran sebagai calon manajer koperasi.


Program ini melibatkan calon pengelola di Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih.


Fokus pada Disiplin dan Kepemimpinan


Ketut menjelaskan bahwa pelatihan bela negara dan manajerial dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia diarahkan untuk membentuk karakter, bukan kemampuan tempur.


Menurutnya, materi pelatihan menitikberatkan pada penguatan disiplin, kepemimpinan, integritas, kerja sama, tanggung jawab, profesionalisme, serta kemampuan bekerja di bawah tekanan.


“Penekanannya bukan pada kemampuan fisik, melainkan pada pembentukan mental, karakter, tanggung jawab, daya juang, kerja sama, dan kemampuan memecahkan masalah,” ujarnya.


Ia juga menyebut bahwa penguatan ekonomi melalui koperasi dipandang memiliki keterkaitan dengan ketahanan nasional, karena ekonomi rakyat yang kuat dianggap menjadi bagian dari pertahanan negara secara tidak langsung.


Lima Peserta Meninggal Dunia


Di sisi lain, pihak Kementerian Pertahanan Republik Indonesia juga mengonfirmasi adanya lima peserta SPPI yang meninggal dunia selama pelaksanaan program.


Kelima peserta tersebut adalah Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari.


Berdasarkan keterangan yang disampaikan, para peserta mengalami penurunan kondisi kesehatan dan telah mendapat perawatan medis intensif sebelum meninggal dunia. Penyebab kematian disebut bervariasi, termasuk henti jantung dan tuberkulosis.


Sorotan Publik dan Pertanyaan Lanjutan


Meski pemerintah menegaskan bahwa program ini merupakan pelatihan bela negara berbasis karakter dan manajerial, sorotan publik tetap muncul terkait pendekatan pelatihan yang dianggap menyerupai pendidikan militer.


Perdebatan ini membuka diskusi lebih luas mengenai batasan antara pelatihan sipil berbasis kedisiplinan dengan metode semi-militer, terutama ketika diterapkan pada program penguatan ekonomi desa dan nelayan.


Pemerintah hingga kini menegaskan bahwa tujuan utama program adalah mencetak pengelola koperasi yang disiplin dan profesional untuk memperkuat ekonomi kerakyatan. (*)

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan

Iklan
BREAKING NEWS