Iklan

Iklan

BBM B50 Mulai 1 Juli 2026 Disiapkan Pemerintah, ESDM Ungkap Hasil Uji Jalan dan Dampaknya

Redaksi
Rabu, 17 Juni 2026
Last Updated 2026-06-17T12:24:13Z
Menyoroti wacana peluncuran BBM jenis B50 pada 1 Juli 2026 yang pernah dibayangi hasil minor saat uji coba ESDM pada tahun 2025. (Dok. Pertamina)

SIBERSATU.CO  – Wacana pemerintah terkait rencana peluncuran jenis baru Bahan Bakar Minyak (BBM) B50 pada 1 Juli 2026 mendatang tengah menjadi perhatian publik di media sosial.


BBM jenis ini merupakan hasil pencampuran biodiesel hingga 50 persen pada solar, yang diklaim aman digunakan untuk kendaraan di Indonesia.


Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, menyampaikan bahwa uji jalan BBM B50 telah dilakukan sejak April 2026.


Ia menjelaskan bahwa kualitas bahan bakar berbasis B100 yang digunakan dalam campuran B50 telah memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan.


“Termasuk juga pengujian kinerja konsumsi bahan bakar menunjukkan kendaraan tetap stabil,” ujar Anggia di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (17/6/2026).


Selain itu, ia menambahkan bahwa konsumsi bahan bakar masih berada dalam rentang standar yang direkomendasikan oleh pabrikan kendaraan.


Dorong Pengurangan Impor BBM


Dalam kesempatan yang sama, Kementerian ESDM mendorong pelaku industri untuk mendukung implementasi program tersebut, terutama dalam aspek kualitas, distribusi, dan proses pencampuran (blending).


Menurut Anggia, hal tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas serta keberhasilan implementasi BBM B50 di lapangan.


Pemerintah juga berharap masyarakat dapat beralih menggunakan BBM jenis baru ini sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil serta menekan impor BBM.


Ia menyebut, implementasi B50 berpotensi memberikan penghematan devisa negara hingga Rp157,28 triliun serta menyerap sekitar 2,2 juta tenaga kerja.


Pernah Diuji Coba pada 2025


Sebelumnya, Kementerian ESDM telah melakukan uji coba BBM B50 pada 2025, mencakup pengujian karakteristik bahan bakar, uji presipitasi, serta stabilitas penyimpanan.


Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengatakan pengujian dilakukan terhadap berbagai komposisi bahan bakar nabati dan solar.


“Kita sudah melakukan uji laboratorium dari komponen bahan bakar minyak yang digunakan,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII DPR, November 2025.


Namun, hasil awal pengujian tersebut menunjukkan sejumlah catatan teknis, di antaranya potensi penurunan performa mesin serta usia filter kendaraan yang lebih pendek dibandingkan penggunaan B40.


“Umur filter dari penggunaan B50 memang cenderung lebih pendek, misalnya dari tiga bulan menjadi dua bulan,” jelasnya.


Ia juga menyebut adanya penurunan daya mesin berkisar 10–20 persen dibandingkan B40, tergantung komposisi dan kualitas bahan baku yang digunakan.


Meski demikian, ESDM menilai solar dengan kadar sulfur rendah lebih ideal untuk mendukung implementasi campuran biodiesel tersebut. (*)

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan

Iklan
BREAKING NEWS