![]() |
| Longsor menghantam Pos Pemeriksaan Jilong di perbatasan Tibet-Nepal. (Foto: Dok. Threads/@makotokase) |
SIBERSATU.CO, KATHMANDU — Banjir bandang yang menerjang wilayah utara Nepal, dekat perbatasan Tibet, menewaskan sedikitnya 157 orang. Ratusan lainnya masih dinyatakan hilang, sementara operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung di tengah kerusakan luas pada permukiman dan infrastruktur.
Bencana terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026, ketika gelombang air bercampur lumpur, bebatuan, dan material longsoran menerjang aliran Sungai Bhotekoshi di Distrik Rasuwa sebelum bergerak ke wilayah hilir.
Berdasarkan pembaruan The Kathmandu Post pada pukul 23.34 waktu setempat, sedikitnya 157 jenazah telah ditemukan. Ratusan orang lainnya masih belum diketahui keberadaannya, termasuk wisatawan asing dan personel keamanan.
Timure, Syaphrubesi, serta sejumlah permukiman di sepanjang Sungai Bhotekoshi menjadi kawasan yang mengalami kerusakan paling parah. Arus deras menyapu rumah, kendaraan, fasilitas perdagangan di kawasan perbatasan, hingga sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air.
Laporan awal mencatat sembilan proyek pembangkit listrik terdampak. Sebanyak 19 jembatan kendaraan dan sekitar 40 kilometer ruas jalan juga dilaporkan rusak atau tersapu banjir.
Bencana tersebut turut berdampak pada sektor pariwisata Nepal. Nepal Tourism Board sebelumnya melaporkan 384 wisatawan kehilangan kontak, terdiri atas 291 warga negara asing dan 93 warga Nepal.
Sebagian dari mereka dilaporkan tengah melakukan perjalanan menuju kawasan Gosainkunda maupun jalur ziarah Kailash Mansarovar. Terputusnya jaringan komunikasi dan akses transportasi membuat proses verifikasi terhadap keberadaan para wisatawan masih terus dilakukan.
Longsoran Es Diduga Picu Banjir
Penyebab pasti banjir masih dalam penyelidikan. Namun, analisis awal Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal menunjukkan longsoran es dan material bebatuan diduga sempat membendung Sungai Lhende, anak Sungai Bhotekoshi, sekitar 20 kilometer di hulu Jembatan Miteri.
Bendungan alami tersebut diperkirakan membentuk danau sementara sebelum akhirnya jebol dan melepaskan air serta material dalam jumlah besar ke arah hilir.
Pada hari yang sama, gempa bermagnitudo 4,4 juga tercatat di wilayah Tibet sekitar pukul 08.37. Meski terjadi berdekatan dengan waktu bencana, para ahli belum dapat memastikan adanya hubungan langsung antara gempa tersebut dan longsoran yang diduga memicu banjir.
Pemerintah Nepal menyatakan penyelidikan mengenai penyebab bencana masih berlangsung dan hasil analisis awal belum dapat dijadikan kesimpulan akhir.
Minimnya waktu peringatan juga disebut memperparah dampak bencana. Tidak ada hujan lebat yang tercatat di Rasuwa sebelum banjir terjadi.
Stasiun pemantau otomatis di bagian hulu Bhotekoshi dilaporkan ikut tersapu sebelum sempat mengirimkan peringatan. Informasi peringatan baru diteruskan ke Nuwakot dan wilayah hilir setelah gelombang banjir memasuki Nepal.
Operasi Pencarian Terus Dilakukan
Pemerintah Nepal mengerahkan personel militer, kepolisian, dan Armed Police Force untuk mencari korban serta membantu proses evakuasi.
Helikopter dan drone turut dikerahkan untuk menjangkau wilayah yang terisolasi. Namun, kerusakan jalan dan jembatan serta kondisi medan yang berat menjadi kendala dalam operasi penyelamatan.
Pemerintah juga memerintahkan pemberian layanan medis gratis bagi korban luka, distribusi bantuan darurat, serta percepatan pemulihan jaringan jalan, listrik, dan telekomunikasi.
Nepal turut berkoordinasi dengan negara-negara tetangga dalam penanganan dampak bencana.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan telah mengirimkan obat-obatan, perlengkapan medis darurat, dan tenda serbaguna untuk mendukung penanganan korban.
WHO juga bekerja sama dengan otoritas Nepal untuk memantau risiko kesehatan masyarakat dan memastikan layanan kesehatan tetap tersedia bagi warga di wilayah terdampak.
Banjir ini kembali menyoroti tingginya kerentanan kawasan Himalaya terhadap banjir bandang, longsoran, serta bencana yang berkaitan dengan gletser.
Sungai Bhotekoshi sebelumnya juga pernah dilanda banjir mendadak pada Juli 2025 yang dikaitkan dengan jebolnya danau glasial. Meski demikian, para ahli menegaskan penyebab pasti bencana Agustus 2026 masih memerlukan kajian lapangan dan analisis data satelit lebih lanjut.
Data korban dalam laporan ini masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring berlanjutnya operasi pencarian serta proses verifikasi di wilayah terdampak.



