Iklan

Iklan

DBS Treasures Catat Laba Melonjak 289 Persen di Tengah Tekanan Pasar Global

Redaksi
Kamis, 18 Juni 2026
Last Updated 2026-06-18T13:06:45Z


SIBERSATU.CO, JAKARTA – PT Bank DBS Indonesia melalui layanan DBS Treasures mencatat lonjakan kinerja signifikan di tengah gejolak pasar keuangan global. Net Profit After Tax (NPAT) tumbuh 289 persen secara tahunan (year-on-year), jauh melampaui target internal perusahaan sebesar 157 persen, (18/06/2026).


Kinerja tersebut datang di saat pasar global masih dibayangi volatilitas tinggi, mulai dari ketidakpastian kebijakan moneter hingga arus keluar modal di sejumlah negara berkembang.


Nasabah Kelas Aset Tumbuh, Kepuasan Meningkat


Di tengah tekanan pasar, DBS Treasures justru mencatat pertumbuhan jumlah nasabah baru sebesar 73 persen (YoY). Sementara itu, jumlah nasabah dengan portofolio di atas Rp1 miliar meningkat 8 persen, dengan kenaikan pendapatan per nasabah sebesar 15 persen.


Bank juga mencatat tingkat kepuasan nasabah di angka 4,5 dari skala 5, yang disebut perusahaan sebagai indikasi kuatnya strategi layanan berbasis advisory.


Strategi Wealth Management Berbasis Data dan AI


Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, mengatakan perubahan perilaku nasabah affluent dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan volatilitas global.


Menurut dia, pendekatan wealth management kini tidak lagi sekadar berbasis produk, melainkan pada insight yang terstruktur dan personalisasi.


“Strategi kami mengedepankan insight yang objektif, relevan, dan dapat ditindaklanjuti dengan pendekatan yang berpusat pada nasabah,” kata Melfrida.


Pendekatan tersebut diperkuat oleh pemanfaatan data dari Chief Investment Office (CIO) DBS, teknologi artificial intelligence, serta machine learning untuk membaca pola investasi nasabah.


Pasar Bergejolak, Arus Modal Keluar


Sepanjang tahun berjalan hingga Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terkoreksi hampir 30 persen. Di saat yang sama, arus keluar modal asing mencapai Rp41,16 triliun.


Kondisi tersebut mencerminkan tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan domestik, seiring ekspektasi suku bunga global yang bertahan tinggi lebih lama.


Meski demikian, DBS menilai ketahanan ekonomi domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan bisnis wealth management di Indonesia.


Fokus Diversifikasi di Tengah Ketidakpastian


Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, menyebut volatilitas pasar diperkirakan masih berlanjut pada paruh kedua 2026.


Dalam kondisi tersebut, strategi investasi diarahkan pada diversifikasi portofolio dengan penekanan pada aset defensif, termasuk emas yang saat ini mengalami peningkatan permintaan global.


Bank mencatat lonjakan permintaan investasi emas global sebesar 74 persen secara tahunan pada kuartal I 2026.


Akses Investasi Global dan Produk Baru


Sebagai bagian dari strategi ekspansi layanan, DBS Indonesia juga membuka akses pasar emas global melalui Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) dengan minimum investasi Rp5 miliar.


Selain itu, perusahaan menyebut telah meluncurkan 16 produk investasi baru untuk memperluas pilihan diversifikasi nasabah di berbagai kondisi pasar.


Teknologi dan Jaringan Asia


DBS mengintegrasikan rekomendasi investasi global dengan teknologi digital, termasuk AI dan machine learning, yang kemudian disalurkan melalui kanal digital seperti WhatsApp dan email sebelum didiskusikan dengan Relationship Manager.


Sebagai bagian dari jaringan DBS Group di Asia, bank ini memanfaatkan konektivitas lintas pasar di Singapura, Hong Kong, Taiwan, Tiongkok, dan India untuk membaca tren investasi regional.


Meski mencatat pertumbuhan kuat, DBS tetap menghadapi tantangan dari volatilitas global yang belum mereda, termasuk risiko geopolitik dan arah kebijakan suku bunga global yang masih tidak pasti.


iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan

Iklan
BREAKING NEWS